Amplop Berisi Tabloid Indonesia Barokah Banyak Ditemukan Di Kabupaten Gunung Kidul

Amplop Berisi Tabloid Indonesia Barokah Banyak Ditemukan Di Kabupaten Gunung Kidul – Tubuh Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Gunungkidul mendapatkan 1.771 amplop berisi tabloid Indonesia Barokah dari pelacakan di kantor pos. Ketua Bawaslu Gunungkidul Is Sumarsono menjelaskan, amplop berisi tabloid Indonesia Barokah itu diperoleh waktu lakukan monitoring di Kantor Pos Ngawen. Waktu itu pihaknya mendapatkan tersedianya amplop coklat dengan alamat pengirim ialah redaksi tabloid Indonesia Barokah. Amplop itu lantas dibuka serta nyata-nyatanya berisi tiga eksemplar tabloid Indonesia Barokah.

“Barusan sesudah dikerjakan pengaturan dalamnya bisa dibuka. Tapi kita tak menyaksikan dengan cara utuh, cuma menegaskan isi paket saja,” tutur Sumarsono, Kamis (24/1).

Sumarsono menjelaskan pihaknya juga lantas lakukan pelacakan ke kantor pos yang lain. Akhirnya, sambung Sumarsono nyata-nyatanya diketemukan amplop yang lain di kantor-kantor pos itu.

“Jika dari data yg diraih barusan ada 1.771 amplop yg menyebar di 13 Kantor Pos. Diluar itu ada 68 (amplop) salah satunya udah diantarkan. Jadi yg belum pula diantar ada 1703 amplop,” urai Sumarsono.

Sumarsono menyebutkan amplop itu diperuntukkan ke Kecamatan Playen sekitar 117 amplop, Kecamatan Semanu sekitar 105 amplop, Kecamatan Rongkop sekitar 105 amplop, Kecamatan Karangmojo sekitar 118 amplop, Kecamatan Girisubo sekitar 30 amplop, Kecamatan Nglipar sekitar 92 amplop, Kecamatan Patuk sekitar 125 amplop, Kecamatan Tepus sekitar 67 amplop, Kecamatan Ngawen sebanyaj 89 amplop, Kecamatan Gedangsari sekitar 122 amplop, Kecamatan Wonosari sekitar 165 amplop, Kecamatan Tanjungsari sekitar 70 amplop, serta Kecamatan Panggang sekitar 86 amplop.

Berkaitan tersedianya penemuan itu, Bawaslu minta terhadap kantor pos buat membendung sesaat serta tak mendistribusikan amplop-amplop itu ke alamat yg dituju. Sumarsono minta supaya kantor pos menanti ketentuan dari Bawaslu RI berkaitan peredaran tabloid itu.

“Kami belum pula memahami ada pelanggaran di dalamnya. Kami menanti wejangan dari yg diatas dari Bawaslu DIY atau pihak berkaitan. Selama ini kita belum pula sadari adakah unsur pidana pemilu atau black campaign,” tutup Sumarsono.